Posted by: madealitdwitama | February 11, 2009

mayat itu…

Kemarin tepat satu hari setelah bulan purnama, kakek kami akan di bawa ke kuburan untuk di bakar. hujan rintik-rintik menghiasi persiapan kami untuk upacara itu. Wah terasa capek karena malam sebelumnya kami harus begadang, ya..begitulah tradisi di Bali, kalau ada yang meninggal maka rumah duka akan banyak dikunjungi orang untuk meramaikan suasana, mungkin maksudnya biar yang punya kematian tidak terlalu sedih, tapi nggak tau juga yang jelas malam-malam sebelum acara ke kuburan, selalu diwarnai dengan ramainya kunjungan para sahabat yang sekedar menyampaikan belasungkawa atau hanya sekedar main dan larut dalam suasana keramaian. Pagi itu ketika hujan rintik-rintik turun, persiapan kami sudah hampir pinal tinggal menunggu satu hal yakni mepeluasan aleas nanya ke pada orang yang meninggal tersebut melalui orang pintar apakah ada keinginannya sebelum di bakar? tepat jam 11.30 acara mepeluasan itu pun selesai. Sekalai lagi tradisi berjalan, kami harus melakukan suatu ritual memandikan mayat, sebuah ritual untuk membersihkan mayat dan memberikannya wewangian supaya mayat itu tidak mengeluarkan bau busuk. saya agak sedikit deg-deg an, saya belum pernah melihat mayat sebelumnya secara utuh, kalau pun pernah melihat paling dari tempat yang cukup jauh karena selama ini belum ada keluarga yang meninggal, tapi sekarang saya adalah keluarga dan sesuai tradisi saya harus ada di dekat mayat itu. dibantu oleh tetangga, mayat kakek yang sebelumnya terbungkus kain mulai di buka, bau khas mayat pun mulai tercium oleh hidung saya. Tapi yang lebih mengagetkan saya adalah perubahan kulit muka kakek, wajah yang dulu terlihat tegar dengan raut muka penuh wibawa kini tampak kusut, putih. mata beliau menjorok jauh ke dalam. ah kakek begitu jelek pikir saya. De..de. ayo ikut mandikan jangan hanya bengong, teguran itu sontak membuyarkan lamunan saya. Bergegas saya ikut membantu proses memandikan itu. Akhirnya proses itu pun berlalu. Kini kakek siap diantar ke peristirahatannya yang terakhir. diiringi bunyi gamelan, mayat kakek pun di usung ke kuburan.

Di kuburan, tukang bakar sudah menunggu dengan kompor khusus untuk membakar mayat, setelah di upacarai peti penutup pun di buka, kini terlihat jelas wajah dan tubuh kakek. dan detik..detik terakhir sebelum api di nyalakan, saya sempat tertegun. kakek yang begitu besar perjuangannya kini sudah tiada, banyak hal yang beliau capai di dunia ini tapi kini beliau sendirian, akankah saya kelak seperti itu, apakah tubuh saya juga sejelek itu, keriput dengan mata menjorok ke dalam, lalu kemana semua yang pernah saya capai di dunia ini, kemanakah semua itu dan kalau semuanya hanya berakhir seperti ini lalu untuk apa semua proses kehidupan ini?. sekalali lagi lamunan saya di buyarkan oleh teguran seorang keluarga, ayo de..siap-siap pembakaran akan segera di mulai.

Dan dalam beberapa jam saja tubuh yang dulu begitu kekar kini tinggal abu putih, semua ketegaran, keperkasaan itu lenyap di telan oleh api nan perkasa…

selamat jalan kakek, smoga kelak engkau terlahir di alam mulia

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.