Pagi-pagi, udara di desa sedang masih terasa dingin setelah tadi malan hujan turun rintik-rintik, bau khas tanah yang harum seakan menyiratkan bahwa kerinduannya bumi pada langit telah terpuaskan tadi malam ketika langit menumpahkan seluruh kerinduannya pada bumi melalui hujan yang turun rintik-rintik itu. Saya terduduk dihalaman samping rumah saya sambil memandangi rumput mutiara yang begitu segar pagi itu, ah alangkah segarnya kamu hari ini pikir saya, suasana indah itu seakan-akan menggiring saya untuk terhanyut jauh ke dalam diri saya, memasuki setiap sudut dari jiwa saya. Tapi manakala jiwa saya tenggelam dalam jiwa, dan hati menyatu dalam keheningan, sebuah suara dari neneknya Deram mengagetkan saya.“Mari kita ngalu”, begitulah neneknya Deram (anak saya yang pertama) mengajak saya hari itu. Ia, saya benar-benar lupa sekarang adalah hari untuk pergi ke Balian Dasaran untuk ngalu atau menanyakan ke leluhur siapa yang berreinkarnasi menjadi Deram
Pagi itu setelah banten seleasi disiapkan kami pun berangkat, ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke Balian Dasaran, waktu itu saya sama sekali tidak punya gambaran tentang apa dan bagaimana orang ngalu itu. Awalnya saya juga bingung dengan istilah balian dasaran tapi setelah nyari tahu kesana kesini, baca banyak sumber saya akhirnya dapat sedikit penjelasan tentang balian dasaran. Katanya balian dasaran adalah orang yang memiliki kemampuan menghubungkan antara dunia kita dengan alam lain misalnya alam para leluhur bahkan juga dengan alam para dewa dan proses ngalu adalah proses dimana seseorang melalui balian dasaran ingin bertanya kepada leluhurnya tentang siapa yang berreinkarnasi. Nah bagaimana caranya tuh?
Akhirnya hari itu kegiatan ngalu pun selesai, dari prose situ saya jadi tahu katanya yang berreinkarnasi menjadi Deram adalah kakek buyut saya. Masak sih, keraguan sempat hinggap dalam pikiran saya. Masalahnya ternyata tidak selesai sampai di sana, rasa penasaran membuat saya tidak bisa diam, pertanyaan demi pertanyaan tentang ngalu itu menghujam jiwa saya, gemuruhnya laksana guntur merauh-rauh dalam jiwa saya. Bagaimana seorang balian dasaran bisa melakukan itu, fenomena apakah sebenarnya ini?, apakah itu layak untuk di percaya, Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja meraung raung minta dipuaskan.
Tapi syukurlah ada sebuah buku yang berjudul” Kerauhan “ yang ditulis oleh seorang mangku. Melalui buku itu saya menjadi cukup jelas tentang apa itu kerauhan dan apa itu ngalu.
Kerauhan, kata ini sudah sangat popular di Bali, orang sering mengatakan kerauhan itu sama dengan trance atau kesurupan. Sebenarnya kerauhan adalah masuknya energi luar atau roh dan menggantikan jiwa yang ada dalam tubuh seseorang. Biar tidak bingung kita sebut saja roh pemilik asli tubuh itu sebagai induk semang Jadi begitu jiwa lain ini masuk ketubuh seseorang, maka dengan energinya ia memaksa induk semang keluar dari badannya Walaupun induk semang sudah keluar dari badan, tapi sebuah energi masih menghubungkan antara badan dan induk semang ini. Pada tahap induk semang ini keluar dari badan itulah orang yang kerauhan kehilangan kendali atas dirinya (tidak sadar) dan disebut kerauhan. Tapi ketika roh yang memasuki tubuh itu keluar maka induk semang masuk kembali ke dalam tubuh aslinya dan kemudian orang itu menjadi sadar dari kerauhan. Sebenarnya kerauhan ada dua model. Yang pertama adalah Kerauhan yang tidak sadar. Umumnya kerauhan ini memiliki fenomena seperti ini, pada saat masuknya roh lain kedalam tubuh seseorang akan diawali dengan pergumulan yang hebat karena pemilik asli tubuh itu biasanya tidak begitu saja rela tubuhnya di ambil oleh roh lain. Kerauhan model yang kedua. Sedikit berbeda dengan kerauhan model yang pertama. Kerauhan ini terjadi dimana penghuni asli tubuh itu memberikan kesempatan kepada roh itu untuk masuk secara sukarela. Umumnya hal ini terjadi karena seseorang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan alam atau kekuatan yang akan memasuki tubuhnya itu dan dengan kekuatannya induk semang memampatkan dirinya pada bagian tertentu dalam tubuhnya dan memberikan keleluasaan kepada roh lain untuk memasuki tubuhnya. Nah karena dia masih ada didalam badannya, keadaan ini biasanya tidak disertai pergumulan tapi malah orang itu sadar dengan apa yang dilakukan dan sadar dengan apa yang dilakukan oleh roh lain itu terhadap tubuhnya. Setelah selesai induk semang akan kembali memekarkan dirinya dan kembali memenuhi tubuhnya. Jadi perbedaan mendasar antara kerauhan model satu dengan kerauhan model dua adalah pada kesadaran. Kalau kerauhan model 1 orangnya tidak sadar dengan apa yang dia lakukan tetapi kerauhan model dua orangnya masih betul-betul sadar akan semua aktivitasnya.
Nah kita kembali ke balian dasaran tadi. Ternyata balian dasaran adalah kerauhan model kedua, sehingga pada saat orang ngalu sang balian masih sadar walaupun tubuhnya dipinjam oleh roh lain untuk menjadi media berkomunikasi. Karena masih tetap sadar ini kadang-kadang juga bisa dimanfaatkan oleh balian dasaran yang nakal, dia mengaku saja sudah kerauhan pada semuanya hanya rekayasa, ini bisa saja terjadi.. jadi belive it or not semuanya berpulang kembali kepada kita dan karena itu pula dalam tulisan ini saya sebut versi 2008 mudah-mudahn setelah dapat dari sumber lain, versi balian dasaran ini bisa saya perbaharui dengan versi yang lebih update seperti versi 2009, tunggu saja..launcingnya ya

tulisane menarik, bli. boleh jg nih dicolong buat balebengong.net. hehe..
salam kenal..
By: a! on January 6, 2009
at 4:14 pm
Wik…. ini pendapat bli.
Kerauhan menurut bli adalah kita di”rauh”kan oleh masa lalu kita, bukan oleh roh lain yang masuk ke tubuh kita. Mari kita renungkan sejenak. Bisakah tubuh yang sudah kita miliki bertahun-tahun ini tiba-tiba dihuni oleh mahluk lain, selain oleh pikiran kita sendiri? Jangankan tubuh…. coba salah satu organ tubuh kita dicangkokkan pada orang lain atau sebaliknya, belum tentu tubuh orang yang menerima cangkokan salah satu organ tersebut akan langsung menerimanya. Kenapa? Karena setiap anggota tubuh mempunyai kebijakan sendiri, setiap sel yang kita miliki memiliki kepintaran sendiri-sendiri. Irama tubuh kita dan getarannya berbeda dengan setiap tubuh orang lain.
Dengan getaran atau frekwensi yang berbeda ini, menurut hukum alam, roh, jiwa, atma.. atau apapun sebutannya tidak bisa memasuki tubuh kita.
Kerauhan terjadi karena alam bawah sadar kita. Alam bawah sadar ini akan keluar jika ada pemicunya. Salah satunya adalah musik yang cepat dan keras. Di Bali biasanya dipakai bleganjur. Kalau kita percaya pada kelahiran kembali, roh ini sudah lahir berkali-kali. Ratusan bahkan ribuan kali. Demikian sehingga banyak sub-concious mind yang mengendap. Mungkin kita pernah lahir sebagai dadong gobleg, pekak lengar, we rengot, bape ringkit, atau siapapun. Makanya yang rauh biasanya dadong atau pekek yang kita sudah tidak kenal lagi….”
Bli Mul…..
By: Made Mulia on January 8, 2009
at 8:01 am