Kawan, manakala aku terbaring di bale bambu di sebuah pematang, sembari melukis perjalanan hidupku di awan, kusadari hidup kini telah menelantarkan aku di belantara kesunyian, tiada angin, suara, hanya bisikan dari hati. Tetapi justru dalam kesunyian inilah kawan, aku baru menyadari suara hati begitu indah, begitu damai.
Aku tertidur diiringi irama indah dari seruling sangkakala. Dalam tidurku aku hanya melihat kegelapan di sana sini, aku begitu takut, tetapi kemudian sebuah cahaya kecil datang mendekatiku, cahaya itu begitu indah, cahaya itu ternyata datang dari mata seorang peri kecil yang begitu lucu, dia mendekati ku dengan senyumnya, dia lambaikan tanganya mengajakku bermain seakan dia mengingatkan aku bahwa kehidupan begitu ceria, aku sejenak lupa akan diriku, aku bermain, bercanda dan tertawa. Tapi tiba-tiba badai datang, gemuruhnya begitu mengegelegar, suara petir sahut menyahut, mega-mega berarak, anak bajang berlompatan menyiramkan air bah dari langit.
Kawan, aku terbelenggu dalam jiwa ku yang kerdil, kucoba gapai matahari, kucoba campakan bulan ke peraduan sang ibu tapi yang kucapai hanya hampa dan disana peri kecilku mempermainkan pelangi-pelangi yang keluar dari matanya yang indah..oh..kawan kadang aku merasa hidup begitu kejam, aku terasa buta dalam keindahannya, aku terasa sunyi dalam semarak kidung cinta yang dilantunkannya
Aku mencoba untuk bangkit, dalam sempoyongan peri kecilku merankulku dalam cinta, aku sedikit tegar ketika ku rasakan di hatinya hanya ada kasih..kasih dan kasih.

peri2 kecil mmg selalu menjadi obat paling mujarab.and thanks god,i have it two….
By: vita on December 20, 2008
at 5:40 pm